SCM player skins UJIAN ITU NIKMAT: takwa
Showing posts with label takwa. Show all posts
Showing posts with label takwa. Show all posts

Wednesday, April 27, 2011

kisah anak kecil dan api neraka


Dalam hidup, kita sering terlepas pandang bahawa ada tikanya kita harus memperhalusi pandangan kita kepada sekecil-kecil perkara, yang menjadi pengajaran yang besar kepada keseluruhan hidup kita... 

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.

Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun menegur, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"

Maka berkata si anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca  al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."

Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"




*******
Bagaimana kita melihat perjalanan kita didunia ini sebagai satu perjalanan yang biasa?

sedangkan bagi mereka yang dihatinya yang bercahaya, menilai kehidupan ini dari 'sekecil-kecil perkara'.. yang pada akhirnya akan menjadi penyebab untuk satu keputusan yang besar...

ah! malunya aku....




mari kita betulkan yang biasa dan BIASAKAN YANG BETUL

Monday, July 12, 2010

Hanya Untuk DIA..



(dipetik dari satu kuliah…kalau baca dan faham betul2 ada cerita ttg “sekularisma” dlm kehidupan manusia dan bagaimana Allah yang Maha Mengetahui menilainya…)

Dari Muaz, Rasulullah SAW bersabda: “Puji syukur ke hadrat Allah SWT yang menghendaki agar makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, wahai Muaz!”

Jawabku, “Ya, Sayidil Mursalin.”

Sabda Rasulullah SAW, “Sekarang aku akan menceritakan sesuatu kepadamu yang apabila engkau hafalkan (diambil perhatian) olehmu akan berguna tetapi kalau engkau lupakan (tidak dipedulikan) olehmu maka kamu tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah kelak.”

“Hai Muaz, Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dari bumi. Setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu langit dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu menurut ukuran pintu dan keagungannya.”

“Maka malaikat yang memelihara amalan si hamba (malaikat hafazah) akan naik ke langit membawa amal itu ke langit pertama. Penjaga langit pertama akan berkata kepada malaikat Hafazah,”Saya penjaga tukang mengumpat. Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena saya diperintahkan untuk tidak menerima amalan tukang mengumpat”.

“Esoknya, naik lagi malaikat Hafazah membawa amalan si hamba. Di langit kedua penjaga pintunya berkata,”Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya sebab dia beramal karena mengharapkan keduniaan. Allah memerintahkan supaya amalan itu ditahan jangan sampai lepas ke langit yang lain.”

“Kemudian naik lagi malaikat Hafazah ke langit ketiga membawa amalan yang sungguh indah. Penjaga langit ketiga berkata, “Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena dia seorang yang sombong.”

Rasulullah SAW meneruskan sabdanya,

“Berikutnya malaikat Hafazah membawa lagi amalan si hamba ke langit keempat. Lalu penjaga langit itu berkata,”Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya. Dia seorang yang ujub. Allah memerintahkan aku menahan amalan si ujub.”

Seterusnya amalan si hamba yang lulus ke langit kelima dalam keadaan bercahaya-cahaya dengan jihad, haji, umrah dan lain-lain. Tetapi di pintu langit penjaganya berkata,”Itu adalah amalan tukang hasad. Dia sangat benci pada nikmat yang Allah berikan pada hamba-Nya. Dia tidak redha dengan kehendak Allah. Sebab itu Allah perintahkan amalannya dilemparkan kembali ke mukanya. Allah tidak terima amalan pendengki dan hasad.”

Di langit keenam, penjaga pintu akan berkata,”Saya penjaga rahmat. Saya diperintahkan untuk melemparkan kembali amalan yang indah itu ke muka pemiliknya karena dia tidak pernah mengasihi orang lain. Kalau orang dapat musibah dia merasa senang. Sebab itu amalan itu jangan melintasi langit ini.”

Malaikat Hafazah naik lagi membawa amalan si hamba yang dapat lepas hingga ke langit ketujuh. Cahayanya bagaikan kilat, suaranya bergemuruh. Di antara amalan itu ialah shalat, puasa, sedekah, jihad, warak dan lain-lain. Tetapi penjaga pintu langit berkata,”Saya ini penjaga sumah (ingin kemasyhuran).

Sesungguhnya si hamba ini ingin termasyhur dalam kelompoknya dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawan yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan padaku agar amalan itu jangan melintasiku. Tiap-tiap amalan yang tidak bersih karena Allah maka itulah riya`. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan orang-orang yang riya`.

” Kemudian malaikat Hafazah itu naik lagi dengan membawa amal hamba yakni shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak yang baik dan mulia serta zikir pada Allah. Amalan itu diiringi malaikat ke langit ketujuh hingga melintasi hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT. Semua malaikat berdiri di hadapan Allah dan semua menyaksikan amalan itu sebagai amalan soleh yang betul-betul ikhlas untuk Allah. Tetapi firman Tuhan,”Hafazah sekalian, pencatat amal hamba-Ku, Aku adalah pemilik hatinya dan Aku lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh hamba-Ku ini dengan amalannya. Dia tidak ikhlas pada-Ku dengan amalannya. Dia menipu orang lain, menipu kamu (malaikat Hafazah) tetapi tidak bisa menipu Aku. Aku adalah Maha Mengetahui.”

“Aku melihat segala isi hati dan tidak akan terlindung bagi-Ku apa saja yang terlindung. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang bakal terjadi.” “Pengetahuan-Ku atas orang yang terdahulu adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang datang kemudian. Kalau begitu bagaimana hamba-Ku ini menipu Aku dengan amalannya ini?”

“Laknat-Ku tetap padanya.” Dan ketujuh-tujuh malaikat beserta 3000 malaikat yang mengiringinya pun berkata: “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami sekalian bagi mereka.”

Dan semua yang di langit turut berkata,”Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat.”

Sayidina Muaz (yang meriwayatkan hadist ini) kemudian menangis terisak-isak dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana aku dapat selamat dari apa yang diceritakan ini?”

Sabda Rasulullah SAW, “Hai Muaz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan.”

Muaz bertanya kembali, “Ya, tuan ini Rasulullah sedangkan saya ini hanyalah si Muaz bin Jabal, bagaimana saya dapat selamat dan bisa lepas dari bahaya tersebut?”

Bersabda Rasulullah, “Ya begitulah, kalau dalam amalanmu ada kelalaian maka tahanlah lidahmu jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah dirimu sendiri pun penuh dengan aib maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain.”

“Jangan riya` dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik berdua ketika disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalanmu dunia dan akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut padamu, jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan, jangan mengoyak perasaan orang lain dengan mulutmu, karena kelak engkau akan dikoyak-koyak oleh anjing-anjing neraka jahanam.”

Sebagaimana firman Allah yang bermaksud, “Di neraka itu ada anjing-anjing yang mengoyak badan manusia.”

Muaz berkata, “Ya Rasulullah, siapa yang tahan menanggung penderitaan semacam itu?”

Jawab Rasulullah SAW, “Muaz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukuplah untuk menghindari semua itu, kamu menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri dan benci bila sesuatu yang dibenci olehmu terjadi pada orang lain. Kalau begitu kamu akan selamat dan dirimu pasti akan terhindar dari api neraka.”

ASTAGHFIRULLAHAL ‘AZIIM

“Kita terlupa bahawa jika orientasinya adalah pahala dan keredhaan Allah (IKHLAS), maka manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat kepada manusia yang lain. Carilah redha Allah dengan membantu hamba-hamba-Nya. Itu lebih bermakna. Allah suka, manusia pun dapat manfaatnya.”

Kita juga sering terlupa keikhlasan itu dibahagi kepada 4 hubungan utama. Ikhlas dalam hubungan kita (roh) dengan Allah, sesama manusia (roh), sesama mahluk lain dan keikhlasan dengan jasad (sebagai kenderaan hidup di Dunia). 3 hubungan berbentuk tawassul (untuk mencapai tawakkal) kepada Allah sementara dengan Allah sudah pasti kita bertawakkal, menjadikan akhirnya semua hubungan adalah kerana Allah.

hanya kerana ALLAH..

wallahu'alam ....

Monday, June 21, 2010

ALLAH sembunyikah Hikmat Ibadah sebagai Ujian..


ALLAH tidak mensyariatkan sesuatu tanpa kebaikan dan manfaat kepada hamba-Nya, sebagaimana Dia tidak menciptakan sesuatu dengan main-main dan dengan cara yang batil. Firman Allah, "... (Iaitu) orang yang mengingati Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari seksaan api neraka." - (Ali-Imran: 191)

Namun di setiap kejadian dan ciptaannya tersembunyi pelbagai rahsia dan hikmah yang sukar untuk dilihat secara mata kasar dan akal logik. Hikmah di atas ciptaannya hanya dapat dilihat secara umum tanpa penjelasan secara terperinci.

Misalnya solat, manusia tidak akan mengetahui hikmah dan kebaikannya secara terperinci. Bermula dengan hukum solat, rukunnya dan sudah pasti setiap pergerakannya juga kita tidak akan dapat mengetahuinya dengan lebih lanjut. Malahan pelbagai persoalan dan pertanyaan yang akan timbul untuk memuaskan akal.

"Mengapa solat perlu lima kali sehari?" "Mengapa ada perbezaan rakaat untuk setiap jenis solat?" "Mengapa solat Subuh di awal pagi?"

Mengapa dan terus mengapa. Akal sentiasa mencari jawapan di atas perintah ibadat yang disyariatkan Allah. Namun semua jawapan yang diberi berdasarkan kefahaman akal, ia tidak akan memuaskan sampai bila-bila. Hikmah adalah rahsia Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Bagaimanapun, Allah menjelaskan hikmah itu secara umum di dalam al-Quran. Misalnya hikmah disyariatkan solat. Firman Allah "Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (solat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain)." (Al-Ankabut: 45)

Hikmah disyariatkan membayar zakat. Firman Allah: "Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (At-Taubah: 103)

Timbul persoalan, mengapa Allah menyembunyikan hikmah di atas ibadah yang disyariatkan-Nya. Ulama menjelaskan bahawa hikmah ini disembunyikan sebagai satu cubaan kepada hamba-Nya. Allah mencuba hamba-Nya dengan ibadah yang manusia tidak mengetahui sedikitpun mengenai hikmah pensyariatannya. Dengan cubaan ini, terlihatlah siapa yang benar-benar mengikuti perintah Allah dan ajaran Rasulullah, dan siapa pula yang derhaka dan menolaknya.

Andai kata hikmah ibadah tidak dirahsiakan dan akal dapat memahaminya dengan mudah, sudah pasti, manusia hanya akan beribadah kepada Allah jika sesuatu ibadah itu sesuai dengan rasional akalnya yang terbatas, dan akan mengingkari jika sesuatu ibadah itu tidak sesuai dengan akalnya. Dan ini akan membuatkan manusia menyembah akal bukannya Allah yang mencipta mereka.

Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya al-Ibadah fi al-Islam menyatakan: "Bukanlah menjadi keharusan bahawa ibadah yang disyariatkan itu perlu ada manfaat dalam kehidupan manusia dari segi material. Malahan bukan juga sesuatu yang mesti sesuatu ibadah itu boleh difahami akal yang terbatas. Ibadah adalah ujian bagi ketaatan manusia kepada Tuhannya. Jadi, jika akal dapat mengetahui rahsia ibadah secara terperinci, maka ia tidaklah dapat memberi manfaat dan makna kepada manusia terhadap konsep ibadah dan taat kepada Tuhan."

Cukuplah seseorang mukmin mengetahui hikmah ibadah itu secara umum, dan meyakini bahawa setiap ibadah itu adanya manfaat dan hikmah yang tersendiri. Allah tidak pernah memerlukan ibadah para hamba-Nya, tetapi Allah mencipta ibadah adalah semata-mata untuk kebaikan dan manfaat hamba-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai hamba-Ku! Sekiranya orang yang terdahulu dan terkemudian dari kamu, manusia dan jin di kalangan kamu, sekiranya mereka semua mempunyai hati bertakwa umpama hati orang yang paling bertakwa di kalangan kamu, nescaya hal itu tidak menambahkan apa-apapun dalam kerajaan-Ku. Wahai hamba-Ku! Sekiranya orang yang terdahulu dan terkemudian dari kamu, manusia dan jin di kalangan kamu, sekiranya mereka semua mempunyai hati jahat umpama hati orang yang paling jahat di kalangan kamu, nescaya hal itu tidak mengurang cacatkan apa-apapun dalam kerajaan-Ku." (Hadis Imam Muslim)

Banyaknya rahsia alam semesta yang tidak mampu manusia khususnya saintis menemuinya, begitu banyak juga rahsia ibadah yang tidak terjangkau oleh akal. Hal ini sebenarnya membuatkan tumbuhnya rahsia rindu manusia kepada rahsia yang tersembunyi, dalam masa sama membuatkan manusia insaf dan sedar mengenai kelemahan dirinya sendiri.

Sudah ramai manusia tersesat kerana sengaja mencari rahsia hikmah dalam setiap perkara yang disyariatkan dalam ibadah. Apabila mereka tidak menemui rahsia itu kerana akal yang terbatas, mereka mula berasa ragu-ragu di atas kepercayaan yang ada dan kemudian menjadi sesat.

Al-Imam Ghazali dalam kitabnya Al-Munqidz min adh-Dhalal berkata, "Maka sesungguhnya suatu kebodohan sesiapa saja yang mencari hikmah yang ada di sana, atau orang yang mengatakan bahawa ibadah itu dilakukan secara kebetulan dan tidak ada rahsia Allah di dalamnya."

Oleh sebab itu, perbuatan mencari hikmah dalam ibadah dengan secara terperinci sehingga dapat memuaskan akal adalah perbuatan yang salah dan keliru. Berpuas hatilah dengan keterangan umum yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran, kemudian sama-sama kita katakan, "Kami dengar dan kami taat."

terima kasih Saiful ats artikel ini..

ulasan saya :

“Sesungguhnya ada suatu kaum yang beribadah kepada Allah dengan pengharapan, mengharap keinginannya tertunai.. yang demikian itu ibadah ibarat seorang pedagang, kemudian ada lagi kaum yang beribadat kepada Allah karena takut, yang demikian itu ibadat seorang hamba dan ada suatu kaum yang beribadat kepada-Nya dengan perasaan syukur, yang demi­kian itu ibadah seorang yang merdeka” (Imam Ali as, Al-Bihar 78 : 69) 

sesugguhnya tidak lansung menjadi satu kesalahan samada untuk menjadi seorang pedagang atau seorang hamba.. kerana itu adalah sifatnya manusia..namun adalah satu nikmat jika kita mampu mengerjakan amal ibadah kita semata2 kerana Allah.. kerana ganjaran dan janji Allah tetap akan tertunai miskipun kita mengharap atau tidak.. tapi mengerjakan suruhan tanpa perlu bersebab.. itulah tanda cinta kita kepada Allah..

sepertimana kita mencintai seseorang, kita sanggup lakukan apa saja tanpa mengaharapkan balasan...waima Rasulullah juga tidak pernah lupa untuk mensyukuri nikmat kepada Allah.. siapalah kita berbanding Baginda..Setiap malam Rasulullah saw melalukan solat malam. Hal ini diperhatikan oleh isterinya, ‘Aisyah, hingga ‘Aisyah pun bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan diri, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu maupun yang kemudian?” Nabi saww menjawab,”Wahai ‘Aisyah, tak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (‘abdan syakuran)?”

wallahu'alam


“Sesungguhnya ada suatu kaum yang beribadah kepada Allah dengan pengharapan, mengharap keinginannya tertunai.. yang demikian itu ibadah ibarat seorang pedagang, kemudian ada lagi kaum yang beribadat kepada Allah karena takut, yang demikian itu ibadat seorang hamba dan ada suatu kaum yang beribadat kepada-Nya dengan perasaan syukur, yang demi­kian itu ibadah seorang yang merdeka” (Imam Ali as, Al-Bihar 78 : 69) 55]

sesugguhnya tidak lansung menjadi satu kesalahan samada untuk menjadi seorang pedagang atau seorang hamba.. kerana itu adalah sifatnya manusia..namun adalah satu nikmat jika kita mampu mengerjakan amal ibadah kita semata2 kerana Allah.. kerana ganjaran dan janji Allah tetap akan tertunai miskipun kita mengharap atau tidak.. tapi mengerjakan suruhan tanpa perlu bersebab.. itulah tanda cinta kita kepada Allah..

sepertimana kita mencintai seseorang, kita sanggup lakukan apa saja tanpa mengaharapkan balasan...waima Rasulullah juga tidak pernah lupa untuk mensyukuri nikmat kepada Allah.. siapalah kita berbanding Baginda..Setiap malam Rasulullah saw melalukan solat malam. Hal ini diperhatikan oleh isterinya, ‘Aisyah, hingga ‘Aisyah pun bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan diri, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu maupun yang kemudian?” Nabi saww menjawab,”Wahai ‘Aisyah, tak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur (‘abdan syakuran)?”

wallahu'alam