SCM player skins UJIAN ITU NIKMAT

Saturday, June 11, 2011

Tunjukkan Aku DIMANA TUHAN?!

Banyak bertanya itu pangkal ilmu, rasa ingin tahu adalah satu cara untuk kita mencapai tingkatan dalam semua usaha, dari tiada kepada ada ilmu, dari tidak tahu kepada tahu, dari tiada amal kepada mahir, namun terlalu sangat bertanya tanpa mahu menjadikan segala pengetahuan itu sebagai jalan kebaikan dan kemajuan diri hanyalah sia-sia…. Satu hari ada seorang pemuda, telah puas dia mengembara untuk mencari jawapan bagi persoalan dihatinya. Bertahun pencarian dan beratus orang telah ditemuinya, tapi masih juga dia tidak puas hati dengan jawapan yang diperolehi atas pertanyaannya. Lantas pada suatu hari dia telah bertemu dengan seorang tua yang, biasa saja pada pandangan matanya...

Justeru pemuda ini dengan tegas dan yakinnya ingin menduga, sekaligus mencari jawapan kepada persoalan nya selama ini. Lalu pemuda tersebut pun memulakan bicaranya .

Pemuda : Anda siapa Dan apakah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kiyai :Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan

1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud tuhan kepada saya

2.Apakah yang dinamakan takdir

3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Kiyai itu tersenyum dengan soalan yang diberi, tanpa bersuara tiba-tiba Kiyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?

Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.

Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!

Kiyai :Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda :Saya tidak boleh.

Kiyai :Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai :Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.



Jangan banyak menyoal tanpa guna fikir, banyakan beramal, soalan sekadar satu jawapan untuk pendengaran dan kepuasan rasa ingin tahu, tapi amalan adalah satu usaha untuk mencapai segala darjah kebaikan dan pahala serta bekalan untuk dibawa pulang keperkampungan abadi....

Cermin jasad cerminan hati, cerminan peribadi…

Jom betulkan yang biasa dan BIASAKAN YANG BETUL

Friday, June 10, 2011

Aku sedia memeluk kristian andai...



Lelaki bernama Bisara Sianturi ini bukannya sembarangan lelaki. Dia ialah anak muda yang fanatik dengan agama Prostestan. Apa yang menarik mengenai Bisara ini, ialah percubaannya untuk mempengaruhi sebuah keluarga muslim di Medan, agar menerima ajaran Kristian Prostestan berkesudahan dengan kegagalan. Namun dari ketewasannya berdialog dengan seorang haji, menjadi penyebab dia mendapat hidayah dari Allah SWT.


Bisara Sianturi dilahirkan di Tapanuli Utara pada 26hb Jun 1949... Dia dibesarkan dalam didikan keluarga yang taat penganut Prostestan.


Pada tahun 1968 Bisara telah merantau ke Kota Medan. Nasibnya agak baik kerana berkesempatan berkenalan dengan keluarga Walikota(Datuk Bandar) Medan ketika itu, Ahmad Syah.


Dari kemesraan hubungan itu dia mendapat kesempatan tinggal bersama-sama di rumah keluarga walikota berkenaan. Bisara mengaku, selama tinggal di rumah keluarga walikota tersebut, dia cuba mendakwah anak-anak walikota itu lagu-lagu gereja. Kebetulan anak-anak walikota dekat dengannya dan suka dengan lagu-lagu yang diajarkannya. Sementara walikota sendiri tidak pernah marah kepadanya. Bahkan dia pernah bertanya kepada walikota tentang agama apa yang baik. Walikota itu menjawab, bahawa semua agama itu baik.


Pemikiran terbuka walikota seperti itulah yang membuatnya senang dan berani mengajarkan lagu-lagu gereja kepada anak-anaknya. Menurutnya, kalau orang sudah memeliki pemikiran seperti ini, biasanya akan mudah diajak masuk Kristian.


"Saya berniat mengkristiankan keluarga ini. Pertama-tama melalui anak-anaknya dulu. Makanya saya ajari mereka lagu-lagu gereja. Anehnya, mereka suka sekali dengan lagui-lagu yang saya ajarkan," kenang Bisara Sianturi.


Usaha Bisara untuk mengkristiankan keluarga walikota melalui anak-anaknya ternyata tidak boleh berjalan dengan lancar. Di rumah walikota itu tinggal juga bapa mertuanya, Haji Nurdin. Meskipun walikota tidak merasa keberatan anak-anaknya diajarkan lagu-lagu gereja, tetapi Haji Nurdin tidak suka kalau cucu-cucunya diajarkan lagu-lagu gereja oleh Bisara.


Pada suatu petang, di ruang depan rumah walikota, Haji Nurdin mengajak Bisara untuk bercakap masalah serius. Haji Nurdin yang luas pengetahuan agamanya ini mengajaknya berdialog mengenai agama. Bahkan beliau menawarkan diri untuk masuk Kristian jika Bisara mampu menyakinkan Haji Nurdin melalui hujah-hujahnya.


"Kalau kamu boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan benar, saya berserta keluarga saya seluruhnya dengan ikhlas dan sukarela akan mengikuti kepercayaan kamu," kata Haji Nurdin waktu itu.


Tawaran itu tentu saja menggugat hati Bisara. Dia dengan bersemangat menyanggupinya. Dia mengira akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Haji Nurdin dengan mudah. Ternyata kemudiannya semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Haji Nurdin membuat keyakinnannya terhadap Kristian pula goyah.


"Mana lebih dahulu Tuhan dengan air?" tanya Haji Nurdin.


"Pak Haji ini bercanda. Anak kecil juga bisa menjawab," ucap Bisara.


"Saya tidak bercanda. Kalau kamu boleh menjawapnya, saya dan keluarga akan masuk agamamu!" tegas Haji Nurdin.


"Tentu lebih dahulu Tuhan, kerana Tuhanlah yang menciptakan air," jawab Bisara.


"Kalau begitu, bila Tuhan kamu lahir? Bukankan Tuhanmu, Jesus, lahir pada tahun 1 Masehi? Bukankah tarikh Masehi yang kita pakai sekarang ini mengikuti tarikh kelahiran Jesus? Bukankah sebelum Jesus lahir setelah ada air? Kalau begitu air lebih dulu ada sebelum adanya Tuhanmu?" balas Haji Nurdin. Bisara kebingungan sendiri. Tetapi dia dengan mudah menjawabnya kembali.


"Jesus itu' kan anaknya Tuhan."


"Bukankah dalam ajaran agamamu dikenal ajaran "Trinitas " yang menganggap tiga tuhan, iaitu Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan? Satu bererti tiga dan tiga bererti satu. Kalau demikian, tidak mungkin kita memisahkan Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus. Kalau Tuhan Jesus jatuh atau diragukan dengan pertanyaan seperti tadi, bererti yang lain juga ikut jatuh ," kata Haji Nurdin.


Bisara tambah bingung. Ianya tidak boleh membantah lagi.


"Yang kedua. Dalam Injil Matius pasal 27 ayat 46, disebutkan bahawa Jesus meminta tolong ketika sedang disalib. Cuba kamu fikir, bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Sempurna minta tolong, Kalau Tuhan minta tolong, bererti dia tidak pantas dianggap Tuhan ," kata Haji Nurdin.


Kali ini Bisara tambah terkejut. Dia tidak menyangka Haji Nurdin mengerti banyak tentang Injil. Oleh itu, dia tidak mampu menjawab lagi.


Bisara kesal, meskipun semua meresap ke dalam hatinya, tetapi ia tidak menerima begitu saja. Dia balik bertanya kepada Haji Nurdin tentang kebiasaan orang islam menyunat anak-laki-lakinya.


"Saya hairan dengan orang Islam. Katanya Tuhan maha sempurna, apa yang diciptakan oleh Tuhan sudah sempurna, tetapi umat Islam malah merubah ciptaan Tuhan, Bererti orang Islam lebih hebat daripada Tuhan?


"Buktinya, Allah sudah menciptakan lelaki dengan sempurna, mengapa oleh orang islam lelaki itu harus disunat? Bukankah ini bererti orang Islam lebih hebat dari Tuhan?" tanya Bisara.


Terhadap pertanyaan itu, Haji Nurdin tidak hilang akal. Dia meminta anak muda itu untuk diam dulu di tempatnya, sementara beliau sendiri segera pergi ke pinggir jalan.


"Kamu tunggu di sini dulu sebentar. Saya akan kembali lagi cepatnya ," jawab Haji Nurdin seraya melangkah keluar rumah. Tidak berapa lama kemudian Haji Nurdin sudah kembali dengan membawa sebiji durian.


"Kamu suka durian?" tanya Haji Nurdin.


"Suka !" jawab Bisara.


"Sekarang kamu makan durian ini, tetapi jangan kamu buka kulitnya," tawar Haji Nurdin.


"Bagaimana mungkin saya makan buah ini tanpa membuka kulitnya?" tanya Bisara.


"Bukankah Tuhan sudah menciptakan durian dengan sempurna seperti itu?" balas Haji Nurdin.


Bisara semakin terkejut. Dia tidak menduga orang tua dihadapannya begitu cerdas dan luas pengetahuannya sehingga sebiji durian boleh dijadikan jawapan terhadap pertanyaannya.


Percakapan dengan Haji Nurdin itu membuat seluruh bangunan keyakinan yang selama ini dipegangnya menjadi rapuh. Dia jadi bimbang. Di tengah kebimbangan itulah hidayah dari Allah datang kepadanya. Dia seolah-olah tersedar dengan semua perkataan Haji Nurdin yang benar itu.


Tetapi Haji Nurdin yang bijak itu meminta kepadanya untuk berfikir masak-masak.


"Sekarang fikirkanlah lagi keyakinanmu masak-masak. Apakah selama ini keyakinan itu benar-benar telah membuat kebahagian dalam hatimu? Kalau pun kamu akan masuk Islam, fikirkan juga masak-masak untung ruginya bagi kamu. Fikirkan apakah Islam boleh membahagiakan kamu? Saya beri tempoh satu minggu bagi kamu memikirkannya. Jangan sampai kamu menyesal nanti!" ujar Haji Nurdin.


"Sebelum saya keluar dari percakapan itu, Haji Nurdin sempat menjelaskan kepada saya bagaimana Islam mengatur kebersihan orang muslim dengan cara beristinjak dan berwudhuk. Dari penjelasan Haji Nurdin tentang istinjak dan wudhuk itu saya semaikn percaya kalau Islam itu agama yang sebenarnya," kenang Bisara.


Sebenarnya, sebelum terjadinya dialog dengan Haji Nurdin pun, Bisara sempat dua kali meragukan keyakinan agama lamanya itu.


Pertama, ketika dia masih tinggal di kampungnya, setiap tahun baru di kampungnya diadakan pesta pora. Pada setiap malam tahun baru itu, setiap orang terutama anak-anak muda makan sampai sekenyang-kenyangnya.


Hampir semua orang di kampungnya setiap malam tahun baru jadi mabuk kerana kekenyangan. Bisara yang masih remaja itu sempat berfikir, apakah tidak ada aturan agama yang mengatur ukuran makanan yang boleh dimakan? Saat itulah ia mulai ragu dengan agama yang dianutinya


Kedua, pada satu hari Minggu, dia terlambat datang ke gerejanya... Di tengah jalan di melewati geraja lain. Dia masuk ke gereja itu, tetapi di gereja itu dia tidak boleh melakukan upacara sembahyang, kerana upacara sembahyang di gereja itu berbeza dengan yang biasa dia lakukan di gerejanya.. Keesokan harinya, ia bertanyakan masaalah itu kepada pendetanya.


"Sebenarnya, yang membawa agama ini berapa? Kenapa saya tidak boleh sembahyang di tempat lain?" tanya Bisara kepada pendetanya.


Ternyata pendeta itu tidak dapat menjawabnya. Dia hanya mengatakan bahawa hal seperti itu sudah merupakan peraturan yang tidak boleh dipertanyakan. Bisara kecewa dengan jawapan seperti itu. Tetapi semua peristiwa itu berlalu begitu saja. Dia tidak pernah memperdulikannya lagi. Sampai akhirnya, dia bercakap-cakap dengan Haji Nurdin yang membuat keyakinan mulai runtuh.


Kesempatan yang diberikan oleh Haji Nurdin untuk berfikir itu benar-benar dimanfaatkan oleh Bisara untuk merenungi kembali keyakinan yang selama ini dipeganginya.


Dia ingat betul keterangan yang dijelaskan oleh Haji Nurdin mengenai istinjak dan wudhuk yang merupakan salah satu ketentuan ibadah dalam islam. Dia jadi kagum terhadap ajaran islam yang mengatur umatnya sampai hal-hal yang kecil dan remah tetapi benar-benar bermanfaat bagi kebersihan manusia, baik dari segi fizikal mahu pun segi rohani.


Oleh itu, setelah berlalu masa satu minggu, dia meminta kepada walikota utnuk diislamkan. Walikota segera memanggilkan seorang ulama yang juga teman walikota itu. Bisara sendiri sudah lupa nama Ulama berkenaan.


Akhirnya dengan disaksikan walikota Medan Ahmad Syah, Haji Nurdin dan seorang tokoh Muhammadiyah Ende Pane serta ulama yang mengislamkannya, Bisara pun mengucapkan dua kalimah syahadah.


Setelah selesai mengucapkan syahadah ulama yang mengislamkannya memberikan nama baru kepadanya. Proses pemberian nama itu agak unik. Ulama itu membuka al-Quran yang ada di depannya secara sembarangan. Dari al-Quran itulah diambil nama Mahmud yang ditambahkan pada namanya.


Bahkan ulama itu sampai tiga kali membuka al-Quran dan menemukan nama yang sama iaitu Mahmud. Tetapi Bisara sendiri tidak tahu surah dan ayat berapa yang diambil oleh ulama itu untuk pakai sebagai namanya.


"Ulama itu sampai tiga kali membuka al-Quran secara sembarangan... Tidak ada yang diberi tanda. Tetapi begitu dibuka, selalu yang terbuka muka yang sama. Dari ayat Quran itulah ulama itu memberikan nama Mahmud kepada saya. Saya sendiri tidak tahu surah dan ayat yang mana yang diambil untuk nama saya," Kenang Bisara Mahmud Siantur.


Sejak masuk islam itu, dia belajar dari satu ulama kepada ulama lain. Ternyata memeluk islam bukan perkara mudah yang tidak sebarang cabaran. Sejak dia memeluk Islam berbagai cubaan datang kepadanya.


Setelah tuga bulan memeluk islam, dia ditangkap polis kerana dituduh menghina agama lain dan memecah belah masyarakat.Kejadiannya, pada waktu itu dia diminta untuk berceramah yang isinya menceritakan bagaimana dia sampai memeluk agama Islam.


Ceramah berkenaan diselenggarakan di sebuah lapangan terbuka. Ternyata isi ceramahnya itu membuat penganut agama lain tersinggung. Maka dia pun ditangkap dan dikenakan hukuman penjara selama setahun.


"Saya tidak memfitnah atau memburuk-burukkan agama lain. Saya hanya memaparkan fakta. Saya boleh menunjukkan bukti-buktinya yang boleh dibaca baik dalam al-Quran dan Injil, tidak ada yang bohong. Tapi pihak polis tetap menuduh saya menghina agama lain," kenang Mahmud.


Ketika pertama masuk ke dalam kurungan, dia sempat ditawari pembebasan oleh pemeluk agama lamanya, dengan syarat dia bersedia untuk murtad... Tetapi rupanya keyakinannya untuk memeluk Islam sudah teguh, dia menolak tawaran itu dengan tegas.


"Kalau pun kamu beri seluruh kekayaan kamu kepada saya, saya tidak akan mahu kembali kepada agamamu," jawab Mahmud Sianturi pada waktu itu...


Setelah menjalani kehidupan tahanan selama satu tahun, akhirnya dia dibebaskan setelah mendapat jaminan dari Ende Pane, tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi saksi ketika dia memeluk Islam.


Ende Pane juga menawarkan kepadanya sekolah lagi di mana yang dia mahu, sama ada di Medan, Bukit Tinggi atau di tempat lain.


Tawaran itu diterima olehnya. Dia memilih sekolah di Perguruan Islam Menengah Atas Bukit Tinggi. Setelah tamat. dia meneruskan pelajaranya ke Fakuliti Hukum Universiti Muhammadiyah Bukit Tinggi.


Baru sampai tahun tiga di Unervisiti, tahun 1977 dia berhenti kerana bertemu jodoh dengan seorang gadis bernama Siti Syamsiyah Boru Tobing. Selepas itu baru tiga bulan menikmati indahnya dunia perkahwinan, dia kembali ditangkap polis. Seperti pada penangkapan pertama di Medan, di Bukit Tinggi ini pun dia ditangkap dengan tuduhan menghina agama lain dan memecah belah masyarakat.


Dia ditahan selama dua tahun tanpa proses pengadilan. Setelah dua tahun ditahan, barulah kes dirinya disidangkan dan dia dibebaskan kerana didapati tidak bersalah.
Di tahanan Bukit Tinggi inilah dia mengaku menghadapi cubaan yang sangat berat. Kalau di Medan dulu dia boleh memanfatkan masa di tahanan untuk menghafal banyak ayat-ayat al-Quran dan mempelajari buku-buku Islam.


Sebaliknya ketika dalam tahanan di Bukit Tinggi dia tidak boleh melakukan apa-apa. Bahkan dia mengaku hampir gila. Mengapa demikian? Ternyata, selama di tahanan Bukit Tinggi, dia disatukan dengan 13 orang gila yang senghaja dikumpulkan dari jalan-jalan di kota Bukit Tinggi. Jangankan untuk menghafal al-Quran, untuk bersolat pun dia sering diganggu oleh orang-orang gila yang menghuni kamar bersamanya.


"Beberapa kali tikar solat saya ditarik ketika saya sedang bersolat. Saya jatuh dan terguling-guling. Saya sendiri hairan, mengapa orang-orang gila itu dimasukan ke dalam sel saya. Terus terang saya hampir jadi gila," kenang ayah dari lima orang anak ini.


Selama memeluk agama Islam, Mahmud Sianturi mengaku disingkirkan oleh ahli keluarganya. Bahkan warisan pun tidak diberikan kepadanya. Meskipun demikian, dia tetap saja menjaga hubungan baik dengan keluarganya. Beberapa tahun setelah masuk Islam, dia sempat pulang ke rumahnya. Semua keluarganya berusaha membujuknya untuk kembali kepada agamanya. Bahkan ibunya sampai menangis di hadapannya, berharap Mahmud Sianturi kembali memeluk agama asal mereka.


Tetapi Mahmud Sianturi tidak mudah goyah. Dia malah mengajak ibu dan bapanya untuk mengikuti agama barunya. Pernah suatu malam dia bangun tengah malam dan berdoa agar Allah SWT menurunkan hidayahnya kepada bapa dan ibunya. Tetapi rupanya ibunya pun bangun pada malam itu dan berdoa kepada Tuhannya agar anaknya mahu kembali semula kepada agamanya yang asal.


Mahmud mangaku sempat sedih ketika ibunya hampir meninggal dunia beliau mengajak ibunya untuk memeluk Islam, tetapi ibunya tetap tidak mahu.


"Waktu itu ibu bilang," biar kamu saja yang memeluk Islam. Ibu biar di sini saja." Terus terang saya sedih waktu itu," kenangnya.


Dari sudut seluruh rangkaian perjalanan hidupnya sebagai muslim yang penuh pelbagai cubaan, Mahmud Sainturi semakin kental keimanannya. Semakin lama, keyakinannya terhadap Islam semakin dalam.


Bahkan dia mengakui Islam telah memberikan kebahagian batin yang tidak ternilai harganya, yang tidak mungkin dia dapatkan pada keyakinan yang lama. Oleh itu, kini dia abadikan dirinya dan seluruh hidupnya untuk dakwah Islam. Dia merasakan bahawa dakwah merupakan suatu kewajipan baginya...


"Islam mampu memberikan kebahagian batin yang sesungguhnya, yang tidak mungkin ternilai harganya, Sejujurnya, agama saya yang lama tidak mungkin mampu memberikan kebahagian itu. "Kalau saya mengejar kekayaan, agama lama saya, saya lebih mudah mengumpulkan harta. Tetapi saya memilih Islam kerana ianya mempu menunjukkan kebenaran dan memberikan kebahagaian sejati bagi saya dan bagi manusia seluruhnya," ujar Mahmud Sianturi.


~ petikan majalah Hidayah Jun 2001



Saturday, June 4, 2011

Sahabat dan Dinding Ajaibnya


Ada waktu, kita berkenalan dan berteman dengan orang, sekadar keperluan, ada waktu kerana urusan tertentu, yang menjadi asbab untuk kita terus berhubungan, ada masa, kita terlupa bahawa kenalan yang seketika mampu merubah kita menilai erti hidup dan kehidupan......

Pian dan Eman ditempatkan di dalam bilik wad yang sama. Kedua-duanya sudah bertahun -tahun menderita penyakit serius yang tak ada harapan untuk sembuh.

Sepanjang waktu mereka hanya terbaring di katil memandang siling. Namun nasib Pian baik sedikit apabila setiap hari dia berpeluang duduk bersandar di katilnya. Setiap hari pada pukul 12.00 tgh, jururawat akan datang membantu Pian duduk. Ketika itu, doktor mudah menyedut air dari paru-parunya. Walaupun sakit tapi Pian menanti saat itu dengan gembira kerana ketika itulah dia dapat duduk dan memandang keluar tingkap.

Nasib Eman tidak sebaik Pian. Dia hanya mampu terbaring di atas tilam. Eman tidak ada peluang langsung untuk duduk. Tubuhnya tak berupaya lagi melakukan semua itu sekalipun dibantu. Sejak terlantar Eman sering bercerita mengenai kisah keluarga, rumah, pekerjaan dan keterlibatannya dalam perkhidmatan tentera. Juga percutian bersama keluarga.

Namun lain dengan Pian. Setiap hari Pian akan duduk dan memandang keluar tingkap sepuasnya, sementara jururawat berusaha mengeluarkan air dari paru-parunya. "kau tahu, hari ini cuaca cerah. tasik besar kat tengah-tangah taman tu airnya biru. banyak itik dan angsa berenang," beritahu Pian.

"Eh! Kasihan budak tu, bot mainannya tenggelam. Untung anak-anak sekarang, kapal mainan pun dan macam kapal betul. Dulu aku hanya buat daripada kertas," cerita Pian sambil ketawa.

Eman tersenyum mendengar cerita Pian.Matanya dipejamkan rapat-rapat dan membayangkan kanak-kanak sedang gelak ketawa berlumba bot. Kawanan itik dan angsa mematuk-matuk ikan di air. "Mmmmmmmmmmm! Indahnya di luar sana," Eman mengeluh kerana tidak berpeluang menikmati pemandangan yang diceritakan oleh Pian. Kenangan manis zaman kanak-kanak menyerbu fikirannya. Sambil tersenyum mendengar keluhan rakan sebilik.

Pian terus merenung tingkap. Kemudian dia meletakkan tanganya di dahi seperti orang menadah silau matahari.

"Ceritakan lagi Pian, apa yang kau nampak,"Eman tidak sabar untuk mendengar selanjutnya.

"Ada merpati dua sejoli sedang berpimpin tangan. Eeeeee, romantiknya. Bunga-bunga ros sedang mekar di tepi jalan. haaaa....di belakang sana aku nampak sebuah menara berlatar belakangkan langit biru," cerita Pian bersungguh-sungguh. Eman tersenyum puas. Dia tak dapat melihat tetapi dapat membayangkan betapa indahnya bunga yang sedang mekar.

Alangkah romantiknya pasangan kekasih berpimpin tangan. Selama satu jam itu Pian tak putus-putus bercerita tentang peristiwa yang berlaku di luar sana. Rawatan selesai Pian dibaringkan semula sehinggalah tengah hari esok. Pada suatu hari yang panas, Pian duduk merenung ke luar jendela sambil menjalani rawatan. Matanya bercahaya memerhati, kemudian dia menjengah ke kiri dan kanan lalu senyum.

"Hari ini ada apa di bawah tue , Pian?" tanya Eman.

"Ada perarakan kereta berhias penuh dengan bunga berwarna-warni. Perbarisan anggota tentera, pakaian beragam, kanak-kanak sekolah dan pancaragam," cerita Pian sambil tangannya dihayunkan untuk menunjukkan cara kanak-kanak sekolah itu memukul gendang.

 "Macam perarakan Hari Kebangsaan ke?" tanya Eman pula. Di ruang matanya terbayang warna-warni perbarisan hari Kebangsaan yang selalu dilihatnya di TV sebelum terlantar.

 "Isy....lebih cantik daripada itu," balas Pian.

Eman pejamkan mata dan cuba mendengar muzik pancaragam. Tapi telinganya tak dapa mendengar sebarang bunyi pun.

"Mungkin terlalu jauh agaknya," Eman berbisik sendirian.

Hari berlalu dan minggu bertukar. Suatu pagi, seperti biasa seorang jururwat datang membawa sebesen air mandian ke bilik Eman dan Pian seperti hari-hari biasa.

"Selamat pagi Pak Cik Pian," jururawat yang biasa datang untuk mengelap badan Pian. Biasanya apabila dengar pintu dibuka Pian sudah tersenyum kemudian dengan ramah dia akan bertanya khabar jururawat itu.

Tapi pagi itu Pian masih tidur. "Pak cik," panggil jururawat sambil menyelak selimut Pian apabila tidak ada jawapan. Kemudian dia perhatikan pesakit tua itu tidak bergerak dan dadanya tidak lagi berombak seperti selalu. Jururawat bertugas memeriksa nadi Pian, tidak ada denyutan. Kaki dan tangan Pian juga sejuk. Dalam keadaan kelam-kabut jururawat berlari memanggil doktor.

 "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun....." Pian disahkan meninggal semasa tidur. Satu per satu wayar yang berselirat pada badan ditanggalkan. Jenazah Pian diusung keluar. Dengan pandangan sayu Eman mengiringi jenazah rakan sebiliknya. Tinggallah dia bersendirian, tidak ada lagi siapa yang akan bercerita padanya tentang keindahan di luar sana. Eman mengesat air matanya yang jatuh ke pipi.

"Misi, boleh tukarkan katil saya ke tepi tingkap?" tanya Eman petang itu.

Jururawat memenuhi permintaan Eman dengan senang hati. Setelah semua wayar disambungkan ke tubuhnya, Eman ditinggalkan sendirian. Perlahan-lahan Eman menggerakkan badannya. Walaupun terlalu sakit tapi dia tidak putus asa untuk menjengah ke luar tingkap. Cukuplah kalau dapat melihat dunia luar dari tingkap itu walau seminit.

Tapiiiii......hanya dinding bangunan sebelah yang dapat dilihat.

 "Misi, kenapa saya tidak nampak taman, tasik dan bunga-bunga yang selalu diceritakan Pian," tanya Eman.

"Taman, tasik, bunga-bunga???" jururawat terkejut.

 "Ya, seperti yang Pian selalu cerita,"beritahu Eman.

Dengan senyum jururawat menjawab," Encik, Pak cik Pian tu hilang penglihatan sejak jatuh sakit empat tahun lalu. Malah dia tak tahu pun tingkap tu menghadap dinding bangunan."

"Habis, yang diceritakannya tu...?" soal Eman.

 "Encik," kata jururawat, "mungkin Pak cik Pian mahu menghiburkan encik yang jauh lebih muda daripadanya. Dia mahukan encik sembuh dan dapat kembali pulang ke pangkuan keluarga. Dia pernah beritahu saya, encik adalah sahabat yang paling disayanginya," kata jururawat itu.

Tergamam Eman. Perlahan-lahan air matanya meleleh. Bahunya terhinggut-hinggut menahan sedu. Padahal semasa jenazah Pian diusung dia tidak sesedih itu.

******

Ada ketika, sahabat kita lebih teruk dilanda musibah, tapi dia juga yang lebih banyak dapat memberi semangat kepada kita, sentiasa, dalam berbagai cara. walaupun mungkin dia lebih tersiksa lebih  dari kita sendiri.

Begitulah... kadangkala kita tidak sedar, bahawa kewujudan teman taulan disekeliling kita, mengajar kita sesuatu, memberi kekuatan dan mengingatkan kita agar sentiasa bersyukur, ya.. bersyukur, kerana tahu bersyukur dan mengucap syukur dari hati itu berbeda..

bahawa, kita sangat bertuah, walaupun dalam musibah,
bahawa, kekuatan itu sebenarnya ada dalam diri sendiri,
bahawa.. bilamana kita tahu menilai nikmat yang Allah beri,
bagaimana pun kesukaran yang kita hadapi..
dihujungnya.. ada jalan keluar yang menanti..

Sunday, May 29, 2011

Semut pun Lebih Beriman Dari Manusia


Semut banyak melata dirumah, dia juga makhluk Allah. Diciptakan ia bukan untuk sia-sia...tapi kita manusia.. sering ambil mudah dan pandang enteng.kalau orang dulu-dulu.. semut melata dirumah, ditaburnya gula. Semut gembira, mereka dapat pahala. Tapi sekarang.. dengan segala jenis racun semburan, kita sesedap rasa je pergi spray semut-semut tu.. Bergelimpangan bangkai semut-semut yang mati. Kita ambil penyapu atau vakum. Selamba je kita sapu atau sedut mereka. AKU TAK KATA ORANG AKU KATA DIRI AKU...hu waaa.. kejamnya aku..

Hari ini sekali lagi.. aku buat air nescafe, adalah lagi baki suku gelas tu. Aku lupa leka membuat benda lain. Tau-tau dah penuh semut. Aku bawa kesingki dan buka paip laju-laju.. habis mati semua semut..

Tiba-tiba aku teringat kisah semut dan nabi sulaiman...

Nabi Sulaiman bertanya kepada seekor semut tentang berapa banyak makanan yang diperlukannya untuk hidup dalam setahun. Semut menjawab, ia hanya perlukan makanan sebanyak sebiji butir gandum. Lalu Nabi Sulaiman memasukkan semut tersebut dalam satu botol dengan diletakkannya gula sebesar sebutir gandum. Mulut botol itu kemudiannya ditutup.

Cukup tempoh setahun, mulut botol itupun dibuka semula oleh Nabi Sulaiman. Anehnya, baginda dapati hanya separuh sahaja daripada gula sebesar butir gandum itu yang habis dimakan oleh semut tersebut. Nabi Sulaimana bertanya, mengapa hanya separuh makanan sahaja yang dihabiskan sedangkan semut pernah berkata ia perlukan makanan sebesar sebiji buah gandum?

Sang semut menjelaskan bahawa jika di luar botol rezkinya dijamin sepenuhnya oleh Allah dan dia yakin Allah pasti akan mencukupkan rezkinya. Sebab itu dia tidak perlu risau dengan hakikat itu. Tetapi apabila dikurung oleh manusia (Nabi Sulaiman) dia mengambil langkah berjaga-jaga dan berjimat cermat kerana tidak yakin dengan sifat perihatin manusia. Mana tahu, kalau-kalau manusia itu terlupa lalu mengurungnya terlebih daripada tempoh satu tahun? Apa akan terjadi kepadaku?

Ertinya, semut lebih yakin kepada jaminan Allah ketika di luar botol berbanding ’jaminan’ manusia ketika berada di dalam botol. Untuk menghadapi kemungkinan itulah semut mengambil langkah berjimat cermat yakni dengan memakan hanya separuh sahaja daripada apa yang diperlukannya dalam masa setahun supaya jika berlaku sesuatu yang di luar jangkaan, dia mampu bertahan. Masih ada baki makanan yang boleh digunakan.

Inilah sifat tawakakal dan ikhtiar yang kita boleh pelajari dari semut. Jangan sekali-kali bergantung kepada sesama makhluk dalam soal rezki. Bergantunglah kepada Allah. Kalau ada pihak yang berkata, saya jamin bekalan makanan atau akan sentiasa mencukupi untuk sekian-sekian tahun… jangan terlalu yakin. Sebaliknya, bertawakkallah kepada Allah dan berikhtiarlah dengan keupayaan sendiri. Jika tidak, kita akan dikecewakan. Jadilah seperti semut itu.

Saya termenung panjang dalam fikir yang dalam. Walaupun pengajar kelihatan biasa-biasa sahaja tetapi pengajarannya sangat luar biasa. Bersahaja, tetapi penuh hikmah dan ibrah. Berapa kerat manusia yang benar-benar mengambil panduan daripada ajaran Islam ketika berdepan dengan krisis dan kemelesetan ekonomi.

Ada seruan yang menganjurkan hidup berjimat ketika ekonomi meleset padahal Islam menganjurkan jimat cermat tanpa mengira situasi dan kondisi. Orang yang membazir adalah ’saudara’ syaitan tidak kira samada semasa ekonomi meleset atau stabil, samada dalam keadaan harga minyak naik atau sebaliknya. Ada pula yang meuar-uarkan agar dilakukan perubahan gaya hidup dalam keadaan sekarang… Sinisnya, bukankah cara hidup orang Islam ialah cara hidup Islam, apa lagi yang hendak diubah-ubahnya?

Jarang benar kita mendengar tafsiran yang lebih tersirat tentang apa yang berlaku kini. Maksudnya, tafsiran yang merujuk kepada ‘musabbabil asbab’ (faktor penyebab) bukan hanya ‘asbab’ (sebab). Hakikatnya, apa yang berlaku ialah dengan izin Allah jua. Dan tentu ada maksud Allah izinkan semua ini berlaku. Apakah pengajaran untuk sikaya, simiskin, peniaga, pengguna, rakyat dan penguasa di tengah kemelesetan ekonomi ini?

Bukankah kita telah diberitahu oleh Al Quran dan Al Hadis bahawa ujian daripada Allah adalah untuk meningkatkan keimanan kita? Dan ujian juga boleh meningkatkan tahap kebijaksanaan, kesabaran dan kekreatifan kita untuk menyelesaikan masalah. Pokok pangkalnya, apakah musibah ini menggugat keyakinan kita kepada Allah yang bersifat Al Wahhab (Maha Pemberi), Al Ghani (Maha Kaya) dan Ar Razzak (Maha Pemberi Rezki) misalnya?

Bagaimana pula kita kembali kepada Allah (raja’na ilallah) dalam menghadapi ujian ini? Apakah kita mula mendidik hati kita dengan sifat-sifat mahmudah bersumberkan akidah Islamiah? Apakah kita mula bermuhasabah tentang sistem ekonomi semasa, apakah telah benar-benar disusun mengikut syariah? Apakah orang kaya dan pengusaha mula tergerak untuk mengamalkan akhlak yang pemurah dan zuhud? Manakala orang miskin pula dengan sifat sabar dan qanaah?

Saya tidak pandai mentafsir lebih mendalam, tetapi itulah yang ’mengganggu’ pemikiran dan rasa hati bila mendengar cerita semut dan nabi Sulaiman oleh penceramah tua itu. Pada saya, pasti ada ’mesej’ dan ’signal’ daripada Allah untuk semua golongan masyarakat di sebalik ujian ini. Mustahil Allah lakukan semua ini dengan sia-sia.

Pasti ada sesuatu yang perlu diambil peringatan oleh para hamba-Nya.
Sayangnya, kuliah beliau yang begitu tajam dan menyentuh didengar secara yang hambar sekali. Sidang hadirin yang kebanyaknya golongan ’veteran’ duduk jauh-jauh dan ramai juga yang mendengarkannya sambil lewa. Pada hal, majlis ilmu yang sebegitu mulia (yang disifatkan oleh Rasulullah SAW sebagai taman syurga di dunia) sangat diperlukan oleh semua – daripada pemerintah hingga kepada rakyat jelata. Hakikatnya, tidak kira samada sultan, menteri, mufti, majikan, buruh dan sesiapa sahaja dapat belajar kejituan tawakkal dan kegigihan ikhtiar… daripada seekor semut!

Kredit : Ustaz pahrol Mohd Juoi

Semut...Oh... semut. Kau mengajarku tentang iman dan malu..
kau lebih beriman dan aku tambah malu…

~Ummi Nur Jannah~

Thursday, May 26, 2011

Tarik Nafasmu dalam..dalam


Tarik nafasmu dalam-dalam kemudian duduk diam seketika, atau mungkin boleh saja kau pejamkan mata. Gelap! Dalam keadaan gelap-gelita itulah kau cuba nyalakan cahaya, atau dalam keadaan begitu kau bergerak saja menggunakan mata hati, kerana mata hati sebenarnya mampu menembusi apa saja.

Apa yang kita ingini dalam hidup ini sebenarnya? Hidup dan kehidupan bagaimana yang kita dambakan? Jawapan mudahnya, semua orang mahu senang! Mahu apa saja yang diingininya, apa saja yang diidamkan dan diimpikannya dapat dipenuhi tanpa bersusah-payah.

Tarik nafasmu dalam-dalam dan pejamkan mata! Dalam kegelapan itu kau tanyakanlah kepada diri sendiri, adakah kehidupan yang sebegitu mudah?

Kau mungkin ingin sekali memberikan jawapan 'YA', atas dasar apa yang kau lihat di sekelilingmu. Benarkah apa yang kau lihat itu sebagai sebuah realiti? Atau ia hanya sebuah bayangan indah yang telah mengaburi pandangan matamu, yang mengelabui mata hatimu? Kau pasti akan termenung seketika kerana celaru mencari jawapan hakiki. Lalu kau akan berada buat beberapa ketika dalam lingkungan dunia tak pasti.

Kau ingin hidup bahagia, dengan memiliki segala apa yang indah, yang sempat singgah di mindamu. Soalan mudah - Siapa yang tak ingin kehidupan begitu? Rasanya tak ada seorang pun yang mahu menolak kehidupan mewah, kerana kita sekalian hamba ini memang sentiasa bernafsu dan berselera untuk bersenang-lenang.

Bagaimana pun, nasib di antara kita sekalian hamba ini tidak sama. Takdir untuk kita setiap hamba ini tak serupa. Kerana, Maha Pencipta itu Maha Mengetahui tentang apa yang dicipta-Nya. Maha Mengetahui tentang segala sebab dan akibat terhadap kita sekalian hamba ini. Hanya kita hamba ini saja yang tidak berapa mahu ambil tahu, walaupun telah diberitahu tentang segala apa yang patut diketahui.

Kenapa nasibku begini? Malang sunyi, sentiasa dilanda kecewa dan Ahh, sebuah keluhan dilepaskan. Adakah ini bunyi sebuah keluhan seorang hamba yang tak pandai bersyukur? Adakah ini keluh-kesah seorang hamba yang putus asa dengan hidupnya? Adakah ini rintihan dan ratapan seorang hamba yang tidak redha terhadap ketentuan Maha Pencipta? Segalanya mungkin, dan kemungkinannya juga ungkapan seperti ini pernah kita lafazkan!

Soalnya kenapa? Jawabnya, kerana apa kita hamba ini diciptakan oleh Maha Pencipta. Kita sekalian hamba ini boleh saja melontarkan sejuta satu persoalan, tapi sedarkah kita bahawa segala jawapan telahpun tersedia. Cuma, kita hamba ini saja yang buta! Yang melihat dengan mata, tapi tak nampak satu apa benda!

Kita hamba ini mahukan bahagia sepanjang masa, tapi kenapa pula dihadiahkan dengan derita? Tarik nafasmu dalam-dalam kemudian pejamkan mata apabila kau menyedari bahawa ketika ini kau berdiri di atas muka bumi yang tiada kekalnya, maka kau akan mampu mencari jawapannya. Kita sekalian hamba ini dihantar menghuni dunia untuk diduga. Maha Pencipta sudah berjanji tentang imbuhan-imbuhan yang akan diberi-Nya. Namun, percumakah segalanya? Kita harus buktikan kesetiaan, kita harus tunjuk sifat kehambaan kepada Sang Pencipta Yang Maha Berkuasa.

Hidup dan kehidupan ini sering kita gambarkan sebagai indah. Tahukah kau bagaimana keindahan sebenar dalam hidup dan kehidupan ini? Cukupkah kau gambarkannya dengan memiliki harta menimbun sebagai hidup yang indah? Bukan! Bukan itu dan bukan di situ indahnya!

Sesuatu yang indah mesti seimbang dan mempunyai imbangan - Ada Pro ada Kontra. Makanya, kehidupan yang indah adalah apabila kebahagian itu disulami dengan derita - sebagai sebuah sentuhan hikmat agar kita tak alpha untuk selamanya. Kita perlu merasa duka setelah kita diberi kegembiraan - Agar kita tak terus ketawa sampai tak ingat dunia! Bukankah dalam hidup dan kehidupan ini segalanya berpasang-pasangan? Jadi, keindahan dalam hidup itu berlaku apabila kita mampu melengkapkan setiap pasangannya.

Namun, hakikat kita hamba ini lain benar mahunya. Mahu senang, mahu ketawa, mahu gembira sepanjang masa! Jika begitu yang sering kau fikirkan, tarik nafasmu dalam-dalam kemudian pejamkan mata. Pertama-tama, ingatlah bahawa kau kini berpijak di alam fana bukannya di syurga! Kehidupan alam fana inilah nanti yang menentukan kehidupan kekalmu.

Untuk kesekian kalinya tarik nafasmu dalam-dalam sebelum nanti kau tidak akan bernafas lagi, kemudian pejamkan matamu rapat-rapat sebelum ia terpejam selamanya lalu, tidakkah kau syukuri dengan apa yang telah diberikanNya selama ini?

Jangan kau ratapi nasib sendiri..
Jangan kau tangisi kehilangan yang dialami..

Syukur atas apa yang diberi..
Redha dengan apa anugerah yang diberikan oleh ilahi..
Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba2Nya..

Wallahuwa'lam..

terima kasih Ace... 

Alhamdulillah akhi, satu nasihat yang baik untuk direnungi...

Jangan kau ratapi nasib sendiri..
Jangan kau tangisi kehilangan yang dialami..

3 perkara yang akan membuat ku menangis..
Dosa-dosa ku kepada Tuhan kepada Insan
kelemahan ku melawan arus dunia
dan kegagalanku menjadi hamba yang tulin

Babi.. benarkah ia menguasai hidup kita?


Assalamu'alaikum wbt semua sahabat, semoga dalam rahmat dan lindungan Allah jua hendaknya.. artikel yang akan kita semua baca sebentar lagi adalah bertitik tolak dari keluh kesah kita tentang halal atau tidaknya makanan kita selama ini. maklumat ini adalah dari pihak UKM. saya pernah berkhusus diMardi bbrp tahun lalu tentang pemperosesan makanan dll. Isu ini banyak kali dipersoalkan. sehingga kini ia masih lagi menjadi tanda tanya kebanyakkan dari kita. 

Adalah satu usaha murni jika kita dapat membongkar kebenaran, pun begitu, hal yang demikian ini adalah sukar untuk kita memuaskan hati semua pihak.


Artikel yang akan anda baca juga hendaklah dibaca dengan berhati hati. terdapat bbrap istilah sains (mudah) yang mungkin agak mengelirukan. sebarang pertanyaan lanjut anda boleh menghubungi terus penulis yang telah ummi sertakan alamatnya dibawah..

terima kasih




Jawapan dari UKM :


Saya dah semak dan didapati tidak semua senarai E-codes itu diperbuat daripada terbitan lemak haiwan/babi. Sebagai orang Islam, tidak tidak boleh mengambil apa-apa maklumat bulat-bulat begitu saja tanpa ditentukan kesahihannya. Kita tidak mahu umat Islam dianggap "bodoh" dan mudah "diomong-omongkan" dengan perkara sebegini.


Sebagai contoh untuk additives dengan kod E100 adalah merujuk kepada curcumin, iaitu pewarna kuning semulajadi yang diambil daripada rizom kunyit (Curcuma longa), E110 adalah pewarna turuan Sunset Yellow FCF, Orange Yellow S, E120 = Cochineal, Carminic acid, Carmines, E140 = Chlorophylls and Chlorophyllins dan banyak lagi yang disalah anggap yang tidak ada kena mengena dengan lemak/minyak, apatah lagi lemak babi. Kesimpulannya, umat Islam perlulah berilmu agar kita tak mudah diperdaya dan "dipermainkan" oleh musuh-musuh Islam.


Maksud saya adalah tidak semua bahan tambah (additives) itu diperbuat daripada lemak/minyak dan terbitannya. Untuk menjawab soalan saudari tentang yang mana satu kod E yang mengandungi lemak babi (sepatutnya yang tepat adalah lemak haiwan), eloklah saya jelaskan dengan ringkas disini utk mengelakkan kekeliruan.

Sebenarnya bahan tambah yang menjadi kerisauan pengguna Islam ialah bahan tambah dalam kategori pengemulsi (emulsifiers) dengan kod E400-E499. Sistem makanan (termasuk ubat-ubatan) lazimnya terdiri daripada bahan yang larut air (hidrofilik = suka air) dan larut lemak (lipofilik = suka lemak).


Kedua-dua bahan/ramuan ini tidak boleh terlarut campur; seperti yang kita tahu minyak dan air tak bercampur. Agar kedua-duanya boleh bercampur, maka pengemulsi ditambahkan. Ingat semasa membuat kek, kita mencampurkan kuning telur ke dalam adunan tepung/marjerin.


Kenapa? Kuning telur mengandungi pengemulsi semulajadi dipanggil lecithin. Dalam industri makanan, ahli sains telah mensintesis (membuat) pengemulsi sintetik dengan menggabungkan bahan hidrofilik (gula, gliserol) dengan lipofilik (lemak, minyak, asid lemak). Maka terhasillah produk seperti monoasilgliserol (monoacylglycerols, MAG), diasilgliserol (diacylglycerol, DAG) dan terbitan keduanya; ester gula-asid lemak dan ester poligliserol-asid lemak. gliserol dan asid lemak diperolehi daripada pemecahan (hidrolisis) lemak dan minyak.


Lemak dan minyak pula boleh bersumberkan sumber haiwan (lemak babi - lard, lemak lembu - beef tallow, minyak ikan) dan tumbuhan (minyak sayuran seperti sawit, soya, jagung, bunga matahari, kelapa, koko dsb). Kerisauan tentang halal/haram timbul sekiranya lemak haiwan digunakan. Walau bagaimanapun, pilihan sama ada menggunakan minyak/lemak daripada sumber haiwan atau tumbuhan adalah berdasarkan kepada pertimbangan ekonomi dan keboleh dapatan sesuatu sumber tersebut di kawasan tertentu. Di Malaysia, sudah tentulah sumber lemak/minyak itu daripada sawit, ditempat lain mungkin minyak zaitun, soya, lemak lembu atau lemak babi.



Kita janganlah cepat panik apabila dikemukakan berita sedemikian. Benarkan saya menjelasakan sedikit. Umum tahu bahawa haiwan ternakan/buruan digunakan untuk makanan (daging, susu). Tetapi hasil daripada kemajuan sains dan teknologi, bahan buangan seperti lemak serta kolagen (collagen) daripada kulit dan tulang telah digunakan sebagai bahan mula untuk menghasilkan bahan berfungsi seperti pengemulsi (emulsifiers) daripada lemak dan pemekat/penstabil daripada kolagen. Hormon dan enzim dari kelenjar endokrina dan penghadzaman juga boleh digunakan untuk tujuan perubatan dan teknologi makanan.


Munfaat ini TIDAK TERHAD kepada haiwan babi sahaja, haiwan ternakan lain seperti lembu, kambing, ayam-itik (poultry) dan ikan juga boleh digunakan. Di Malaysia sudah semestinyalah lemak itu diperolehi daripada minyak sawit. Perlu diingat bahawa bahan buangan (lemak, kolagen) tidak digunakan dalam bentuk asalnya tetapi perlu melalui proses pengubahsuaian (modification). Dalam kes ini kolagen dihurai/hidrolisis separa untuk menjadi gelatin; manakala lemak dipecahkan menjadi asid lemak (fatty acids) dan gliserol (glycerol).


Mengikut konsep ISTIHALAH (transformation) yang digunapakai oleh mazhab Maliki dan Hambali, sesuatu bahan baru (produk) itu dianggag suci apabila ciri-cirinya berbeza sama sekali dengan ciri-ciri bahan mula, dengan syarat agen transformasi adalah halal. Dalam hal kolagen dan lemak, agen transformasi adalah asid atau enzim atau kedua-duanya.


Enzim industri pada masa ini dihasilkan daripada mikrob melalui teknik DNA rekombinan (recombinant DNA) dan kejuruteraan genetik (genetic engineering). Di Malaysia, kita adalah penganut mazhab Syafie, dan perkara seumpama ini tak dibenarkan. Sekiranya timbul isu halal/haram sebegini, eloklah kita tanyakan kepada pembekal produk itu sendiri, atau dapatkan pengesahan/kepastian daripada Institut Penyelidikan Halal Malaysia di UPM, Serdang. Sekian dimaklumkan.


Senarai E-codes yang kononnya mengandungi lemak babi didapati tidak benar. Kami termasuk Muslim brothers daripada India dan US dah cuba mencari penulisnya yang kononnya Dr. M Amjad Khan daripada Medical Research Institute (yang mana satu? sbb ada banyak MRI di USA), dan ternyata beliau TIDAK WUJUD. Dingatkan bahawa artikel yang kononnya ditulis oleh beliau adalah PALSU, lebih merupakan satu propaganda pihak tertentu untuk menakut dan memperbodohkan orang Islam.


Untuk menentukan sumber apa, kita perlu menyemak dan mendapatkan kepastian/deklarasi daripada pengeluar/pengilang. Cara lain adalah dengan menggunakan kaedah bioteknologi seperti yang dibangunkan oleh Institut Penyelidikan Halal Malaysia di UPM. Oleh yang demikian, saya tak dapat menjawab soalan saudari dengan tepat, kecualilah kita telah pasti bahawa komponen lipofilik sesuatu pengemulsi itu diperolehi daripada minyak tumbuhan..



School of Chemical Sciences and Food Technology
Faculty of Science and Technology
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM-Bangi
SELANGOR
mamot@ukm.my


Tuesday, May 24, 2011

Bila Bukan Islam mengingatkan si Islam!!

emmm mulanya malas nak komen, tapi tulah, betul, memang semakin lama. kita tinggal 'islam warisan' iaitu islam yang boleh diletakkan didalam kotak kaca. letak kat muzium. sebab kita tidak lagi 'memakai' agama dalam hidup.

ini yg pernah sy hadapi bbrp bulan dulu waktu berjumpa lawyer. dialog antara seorang bizman dan lawyer tu

BM :"so jum kita pergi makan, l belanja u"
LY :"boleh bos kat mana"
BM: "kat **** i teringin nak makan stik nampak sedap"
LY : "boleh bos. tapi i tak gerenti u, halal atau tidak. "
BZ: 'eh oklah tu i tenguk ramai orang melayu makan situ"


biz  man tu melayu namanya pun melayu tok tok
dan ly tu.. india....

alahai...

Jadi? nak salahkan siapa disini? salah kan bangsa asing yang dah tentu- tentu nak makan minum mereka maih sudu je tak kira halal atau haram, asal sedap semua sebat, atau bangsa MELAYU sendiri yang tak tahu jaga agama?

Sungguh memualkan bila tetiba ada pihak yang dapati ada restoran tu, kedai makan ni, kilang tu, organisasi ni, yang menyalut dan memeluk makanan mereka dgn selimut dan sel-sel babi kemudianya orang Islam (yang tak makan memang marahlah ) yang selamba badak makan nak marah!. Dari satu sisi memang kurang ajarlah mereka buat perkara tu. Tapi yang sebenarnya dari satu sisi yang lain, KITA YANG KURANG BELAJAR!.

KITA SENDIRI YG SUAP MAKANAN TU MASUK MULUT KEMUDIAN TERUS TELAN MELALUI TEKAK KITA.. bukan kena  sumbat secara paksa oleh pihak mereka. !!!

Jelas terang lagi berseluh, sebelum masuk mana - mana kedai, restoran, hotel, beli barang,.. kita tidak guna gerak hati, tidak guna gerak mata, tidak guna naruli agama. sebab tu semua kena block. tak nampak, yang kita guna gerak selera dan gerak lapar je..bila lapar selera terbuka, jadi apa yg nampak sedap terus ngap!!

Cuba sekali ni, sebelum pergi kedai nak makan, kita perhati, guna gerak hati... kalau hati rasa 'tak sedap je, tak syok, tak tertarik' tinggalkanlah.. guna gerak mata.. perhati dalam kedai, ada ke colok tersembunyi, ada ke logo halal, ada ke pekerja Islam yg betul2 islam, bukan islam tampal songkok dan sarung tudung je. camne nak kenal semua sama je.. ha tu lah pasal.. bab ni kena perhati pula dgn naluri (macam mata hati gak lah)... org yg betul benar Islamnya dgn islam tampal ni lain aura dia. lain tingkahnya..

Nak ku terangkan disini pun agak payah, dia perlukan latihan anda sendiri, anda belajarlah mengenal yg mana pasir yang mana manikam. bukan maniam!!!


Saturday, May 21, 2011

kisah Tukang Kapak, Mungkar dan Nakir

Al-kisahnya seorang jutawan telah menulis satu wasiat barang siapa yang dapat menjaganya di dalam kubur setelah beliau mati nanti akan diwarisi separuh dari harta peninggalannya. Lalu ditanya pada anak-anak semua adakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti. Lantas menjawab anak, mana mungkin kami sanggup menjagamu wahai ayah kerana pada masa itu ayah sudah pun menjadi mayat.

Selang keesokan dipanggil semua adik-beradiknya dan beliau berkata, "Wahai adik-adikku sekalian sanggupkah kamu menjaga akan daku setelah aku mati nanti bersama selama 40 hari di dalam kubur yang kuhias indah seperti banglo mewah ini dan aku juga akan memberi setengah daripada harta ku kepada di antara kamu yang sanggup bersamaku."

Adik-adiknya pun menjawab, "Wahai abangku, adakah engkau sudah gila mana mungkin manusia sanggup bersama mayat selama itu di atas bumi inikan pula di dalam tanah."

Lalu dengan sedih jutawan tersebut membawa diri ke kamarnya. Beliau masih bertegas dengan hajatnya yang ingin ditemani di dalam kubur nanti apabila beliau sudah mati nanti. Dipanggil setiausahanya supaya diuar-uarkan di dalam akhbar dan media akan wasiatnya itu.

Akhirnya sampai jugalah hari di mana jutawan tersebut kembali ke rahmatullah. Kuburnya dihias indah dan digali seperti sebuah banglo di dalam tanah yang mempunyai kemudahan harian selama 40 hari. Pada waktu yang sama seorang Tukang Kapak yang sangat miskin telah mendengar akan wasiat tersebut lalu diberitahu kepada isterinya apakah dia perlu mengambil kesempatan ini untuk menjadi kaya.

Isterinya berkata, Wahai suamiku, apalah sangat menjaga mayat tersebut selama 40 hari dibandingkan kerja-kerjamu di dalam hutan bertemu harimau dan hantu bajang ketika menebang kayu. Lagi pun makanan disediakan.Tukang kayu tersebut dengan tergesa-gesalah ke rumah jutawan tersebut untuk memaklumkan kepada waris jutawan tersebut akan niatnya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah jutawan tersebut walaupun mendapat bantahan dari orang-orang yang tahu akan agama. Si Tukang Kapak tu pun ikut sekali turun ke dalam tanah bersama kapaknya. Setelah tujuh langkah para hadirin meninggalkan tanah perkuburan maka datanglah Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang Kapak yang tahu sedikit pasal agama menyedari akan siapa yang hadir itu pun menjauhkan diri dari mayat jutawan tersebut. Terdetik di fikirannya bahawa sudah tiba masanya jutawan tersebut akan disoal oleh Mungkar dan Nakir.

Tetapi sebaliknya yang berlaku, Mungkar dan Nakir telah menuju ke arahnya dan lalu berkata.

Apa yang kau buat di sini?

Aku menjaga mayat tersebut selama 40 hari untuk mendapat setengah harta wasiatnya.

Apa harta yang kau ada sekarang?

Aku cuma ada sebatang kapak ini sahaja untuk mencari rezeki.

Dari mana kau dapat kapak ni?

Aku membelinya.

Lalu hilanglah Mungkar dan Nakir di hari pertama di dalam kubur tersebut.

Hari kedua di tanya pula, apa yang kau buat dengan kapak ni?

Aku menebang pokok untuk dijadikan kayu api untuk dijual.

Hari ketiga di tanya lagi pasal kapak tersebut

pokok siapa yang kau tebang dengan kapak ni?

Kat hutan mana ada orang punya pokok.

Adakah kau pasti?

Lalu hilang lagi Mungkar dan Nakir hari ke empat.

Adakah kau potong pokok tersebut dengan kapak ini ukurannya dan beratnya sama untuk dijual?

Aku potong cincai-cincai je, mana boleh ukur sama rata

lalu hilang dan muncul Mungkar dan Nakir tersebut selama 39 hari dan soalannya tetap sama berkisarkan kapak tersebut. Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang Kapak tersebut.

Berkata Mungkar dan Nakir hari ini hari terakhir aku bersamamu buat seketika tapi aku akan bertanya pasal kapak ini. Belum sempat Mungkar dan Nakir menyoal beliau, si Tukang Kapak tersebut telah melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Lalu di perhatikannya begitu ramai orang sudah menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kapak tersebut dengan tergesa-gesa keluar dan meninggalkan mereka semua dan sambil berkata ambillah korang semua harta tersebut dan aku tidak menginginkannya lagi. Sesampai di rumahnya lalu si isteri berkata wahai suami ku, di manakah setengah harta peninggalan jutawan tersebut.

Maka jawab si Tukang Kapak. Aku tidak mahukannya lagi. Sedangkan harta aku yang ada kat dunia ini hanya kapak. Tapi apa yang di soal Mungkar dan Nakir selama 40 hari semuanya hanya pasal kapak ini. Apa akan jadi sekiranya harta aku begitu banyak. Bagaimana dapat aku menjawabnya?.


Moral : sebenarnya bukan tidak boleh berharta. Kita usah salah tafsir, sebagai orang Islam, sebenarnya Allah menyuruh kita agar kaya raya, tidak percaya? bacalah Al'Quran. Tiada dalam ajaran Islam agar umatnya jadi miskin atau menolak kesenangan duniawi. 


Namun dalam pada itu, harus diingat bahawa, tanggungjawab menjadi kaya itu yang seharusnya dijaga dan dipikul dengan jujur. 
Seperti mana kisah ini, tiap satu dari harta yang kita punya akan dipersoalkan kelak dimahkamah Allah swt. 

Justeru, gunakan apa yang Allah beri dengan cara yang betul. Insya'Allah, orang Islam yang kaya dan dermawan sangat dikasihi Allah swt!

Thursday, May 19, 2011

Yang Mana Satukah Kita?

Hidup ini sebenarnya tidak begitu sukar, cuma ada waktunya kita tenggelam dalam emosi yang perbagai, bila punya masalah, ada masanya kita kuat bertahan, pada masa lain, kita goyah menentang arus...

pun kekuatan itu sebenarnya ada dalam diri.. kesukaran membuat pilihan barangkali mengaburi kemampuan merungkai kekusutan yang terjadi..justeru ada detiknya,.. lihatlah pada alam dan kita akan dapat belajar mengenal diri...

*******

Pada suatu hari, seorang pemuda kelihatan gelisah kerana beranggapan hidup terasa amat menyakitkan.Setiap kali dia dapat menyelesaikan masalah, timbul pula masalah lain yang yang memerlukannya ‘berjuang’ lagi.
 
Akhirnya, pemuda itu bertemu dengan ayahnya, seorang tukang masak. Dia menceritakan masalah yang di hadapi dan di dengar dengan sabar oleh ayahnya.Setelah dia selesai mencurahkan perasaan , ayahnya membawa pemuda itu ke dapur.
 
Di situ , si ayah mengisi tiga periuk dengan air dan meletak periuk itu di atas api.Apabila air mendidih, dia memasukkan lobak merah di dalam periuk pertama, telur di periuk kedua dan serbuk kopi di periuk ketiga.Bahan itu di biarkan mendidih.

Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang di lakukan oleh ayahnya.Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan meletakkannya dalam mangkuk lain dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.Lalu ia bertanya kepada anaknya.’’Apa yang kau lihat, nak?
Lobak , telur dan kopi,” jawab si anak.
 
Si ayah mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasai lobak itu.Pemuda itu menurut dan di rasakan lobak itu enak.

Ayahnya meminta pemuda itu mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebiji telur rebus yang sudah keras..Terakhirnya, ayahnya meminta dia merasai kopi.Pemuda itu tersenyum kerana merasai kopi dengan baunya yang harum.
 
‘’Apa erti semua ini ayah?’’tanya pemuda itu.
 
Ayahnya berkata, tiga bahan yang di rebus tadi sebenarnya menghadapi kesulitan yang sama-di rebus dalam air yang mendidih tapi setiap satu menunjukkan reaksi berbeza.Sebelum di rebus, lobak bersifat keras dan sukar di patahkan.Namun selepas di rebus, lobak menjadi lembut dan lunak.
 
 Telur pula sebelumnya mudah pecah tetapi apabila di rebus, isinya menjadi keras.Serbuk kopi mengalami perubahan yang unik.Setelah ada dalam rebusan,serbuk kopi mengubah air kopi berkenaan.

‘Kamu termasuk dalam kategori mana?’’tanya si ayah.
 
Pemuda itu terdiam.

Air mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang kamu lalui.Ketika kesukaran dan kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu lobak,telur atau kopi?’’

Pemuda itu termenung memikirkan perumpamaan yang diberikan bapanya.
 
‘’Jika kamu lobak yang kelihatannya keras, kamu akan mudah menyerah kepada penderitaan dan kesukaran.Kamu bakal kehilangan kekuatan.Atau kamu adalah telur yang awalnya memiliki hati yang lembut, dengan jiwa yang dinamik,tetapi dengan adanya cabaran dan kegagalan,menjadi keras dan kaku,walau kelihatan sama pada luarannya.

“Atau adakah kamu serbuk kopi?

Ia mengubah air panas yang menyakitkan itu. Ketika air mencapai suhu terpanas,kopi terasa semakin nikmat.Sepatutnya kamu menjadi serbuk kopi - ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarnya juga menjadi semakin baik,’’jelas si ayah.


lalu yang mana satukah  kita...

Thursday, May 12, 2011

Belajar Dari Sebuah Mangkuk, erti bersyukur

Kurang lebih mungkin saja kita terlepas pandang. Bibir munggil kita begitu mudah sekali melontarkan keluhan. Keluhan demi keluhan keluar tanpa disedari. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang remeh. Kita mengeluh atas perkara-perkara yang tidak mendatangkan faedah. Kita mengeluh dan asyik mengeluh. Andai dapat ditukar setiap bait keluhan itu kepada wang ringgit, pasti terbasmi kemiskinan di muka bumi.

Namun hairan, Kita mengeluh tatkala kita ditimbuni dengan pelbagai kesenangan. Kita mengeluh kerana makanan kegemaran tidak disediakan, sedangkan perut semakin memboyot kekenyangan. Kita mengeluh kerana kepanasan, sedangkan angin semula jadi disediakan tanpa bayaran. Kita mengeluh atas sekelumit kekurangan, sedangkan kelebihan sebanyak buih dilautan dibiarkan.Allah s.w.t berfirman “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (An-Nahl: 18).

Di saat kita tenggelam dalam keluhan diri sendiri, pancaindera kita tidak lagi mampu memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, merasai dan menghayati pemberian Allah yang tiada henti-hentinya. Lantaran itu, mengapa begitu sukar sekali untuk menyebutkan kalimat Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran seorang hamba kepada khaliqnya. Itulah hakikatnya. 

Memang manusia sentiasa leka dan lupa. Manusia mempunyai keinginan yang tiada batasan. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki..Kecuali orang-orang yang bersyukur.

********
Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berjumpa dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis itu.apa yang kau inginkan dariku ?

Si pengemis itu tersenyum dan berkata;
Tuanku bertanya seolah-olah Tuanku dapat memenuhi permintaan hamba

Sang raja terkejut dan berasa pelik;
Tentu saja aku dapat menunaikan permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!

Maka menjawablah si pengemis tadi;
Berfikirlah dua kali, Wahai Tuanku sebelum Tuanku menjanjikan apa-apa…

Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu, Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya raya.

Dengan penuh kejujuran dan kesederhanaan si Pengemis itu menghulurkan mangkuk penadah sedekah.

Tuanku isilah apa yang Tuanku nak bagi kepada hamba di dalam mangkuk ini.

Raja menjadi geram mendengar kata-kata sang pengemis dihadapannya. Diperintahkannya bendahara untuk mengisi penuh mangkuk si pengemis yang kurang ajar itu dengan emas. Kemudian bendahara pun menuangkan emas dari pundit-pundi yang besar yang dibawa bersamanya ke dalam mangkuk si pengemis. Anehnya emas di dalam pundit-pundi itu tidak dapat memenuhi penuh mangkuk sedekah tersebut.

Tidak mahu malu didepan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan, emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap oleh mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah-olah tanpa dasar dan berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh dikaki pengemis tadi lalu bertanya….

Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini ?

Pengemis itu tersenyum sambil menjawab :

Mangkuk itu terbuat dari 'keinginan manusia tanpa batas'. Itulah yang mendorong manusia sentiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, keinginan memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika engkau akhirnya mendapatkan keinginan itu, semua yang telah engkau dapatkan itu, seolahnya tidak lagi bererti bagimu.Semuanya hilang ibarat emas, intan berlian yang masuk ke dalam mangkuk yang tidak beralas itu.

Kegembiraan, keinginan, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya hadir tatkala proses untuk mendapatkan keinginan . Begitu saja seterusnya, wujud pula keinginan baru. Orang tidak akan merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak akan mengatakan, kekuasaan akan cenderung untuk berlaku tamak.

Raja itu bertanya lagi;

Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu. ?

Tentu ada, iaitu rasa bersyukur kepada ALLAH SWT. Jika engkau pandai bersyukur, ALLAH akan menambah nikmat padamu . ucap sang pengemis sambil berlalu dan hilang dari khalayak .

Ketika Tuhanmu memberi tahukan : Demi, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika engkau mengingkari nikmat ku, maka sesungguhnya azab ku sangat pedih. ( Ibrahim : 7)

*******



Moral : Pada zaman Sayyidina Umar al-Khattab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah yang maksudnya: “Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit” Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Kaabah. Umar berasa hairan dengan permintaan pemuda tersebut. Selepas selesai melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda berkenaan lalu bertanya: “Kenapakah engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tiada permintaan lain yang boleh engkau mohon kepada Allah?”

Pemuda berkenaan menjawab: “Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa berkenaan kerana aku (berasa) takut dengan penjelasan Allah seperti firman-Nya dalam surah al-A’raaf ayat 10 yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekelian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur” Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, iaitu (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah” jelas pemuda berkenaan.

Mendengar jawapan itu, Umar al-Khattab menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai Umar, alangkah jahilnya engkau, orang ramai lebih alim daripadamu”

Subhanallah....
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang sedikit ini, Amin…